semua tentang cita - cita, impian dan harapan
Aku dan Jurusan Pai
Jika berbicara mengenai pendidik sebagai profesi, pasti banyak
bayangan yang muncul diotak kita. Tentang keuletan seorang manusia yang sabar
mengajari siswanya, tentang permasalahan gaji pendidik yang kurang layak, atau
berbagai opini yang kadang kurang enak didengar.
Terlebih mengenai pendidikan studi tingkat lanjut usai SMA, pasti
kita tidak asing dengan prodi PAI yang dari kampus islam negeri sampai kampus
swasta. Tenarnya jurusan PAI seakan – akan terus Berjaya. Bahkan peminat jurusan
PAI bisa dikatakan semakin meningkat tiap tahunnya. Dan tak tanggung – tanggung
PAI menjadi jurusan favorit di beberapa kampus ternama.
Akan tetapi, jujur dari lubuk hatiku yang paling dalam. Bukan
sekali dua kali aku dibuat bimbang dengan jurusan yang sedang kudalami ini.
Semakin bertambahnya aku melangkah kesemester tua. Aku berkali – kali dijejali
berbagai perspektif orang – orang disekitarku. Tentang suramnya sarjana lulusan
ilmu keguruan khususnya PAI, banyak alumni yang menjadi pengangguran bahkan tak
sedikit yang menekuni profesi yang jauh didunia pendidikan keagamaan. Kadang
berkali – kali aku selalu dibisiki oleh suara – suara menyebalkan. Bisikan itu
berbunyi “ kamu salah jurusan ”.
Opini – opini itu, seakan menghantuiku, membuat langkah kakiku
semakin lambat, bahkan membuat tingkat kemalasanku kadang naik drastic. Dan
lebih sedihnya pula tak sedikit diantara mereka yang berkata “ PAI jurusan
pelarian “.
Kadang, aku marah, kecewa bahkan sangat tidak terima. Namunkadang
aku mengiyakan apa yang mereka katakana. Karena pada mulanya fakta membuktikan,
beberapa orang yang pernah ku temui ada yang lulus dari prodi Pendidikan Agama
Islam (PAI), tetapi tidak bergelut didunia pendidikan kegamaan, bahkan dunia
pendidikan sekalipun. Ada diantara mereka yang
menjadi karyawan bank, menjadi buruh pabrik, namun tak sedikit juga aku
menjumpai mereka yang tengah asik menikmati profesinya sebagai eorang pendidik
yang professional. Tapi, yang lebih menyedihkan ketika aku juga harus menjumpai
mereka yang saat kutanya “ jurusan apa? Kerja disekolah mana?” jawabnya masih
belum kerja atau bla –bla – bla. Yah itulah, potret yang terjadi dilapangan.
Mau tidak mau, indah atau bukan itu sudah menjadi ketentuan tuhan.
Namun perlu kalian ketahui, aku sama sekali tidak takut dan tidak
peduli ketika dibilang “ kalua sudah lulus mau jadi apa?”. “ sarjana PAI tiap
tahun membludak. Sementara lowongan menjadi tenaga pendidik minim lho “. Aku
tidak peduli.
Aku akan terus berusaha semangat belajar menuntut ilmu. Entah suatu
saat akan menjadi apa semua sudah aku pasrahkan sama Tuhanku. Ak yakin, rencana
tuhan adalah rencana yang paling indah. Meskipun demikian aku tetap ingin
menjadi tenaga pendidik sih. Yang bias setiap hari berbagi ilmu dengan peserta
didik. Meskipun aku bukan orang yang pinter – pinter amat. Setidaknya aku masih
mau ngurip – nguripi agama islam. Tentang berapapun gaji yang akan
kuperoleh esok saat aku sudah bekerja aku berusaha menerimanya. Karena aku
harus selalu percaya, Allah maha pemberi rizki. Allah akan selalu memenuhi
kebutuhan yang saya butuhkan, dan semoga juga imuku bias manfaat. Amin. Jika
suatu saat aku belum berkesempatan menjadi guru, dosen ataupun sejenisnya.
Setidaknya ilmuku bias ku amalkan untukku sebagai pedoman menjalani hidup.
Menjadi istri sholehah dan madrasah yang baik untuk putra – putriku kelak.
Sehingga putra – putriku pendidikannya akan baik dan teropeni. Amin.
Komentar
Posting Komentar